Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis , pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi brigadir polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.
Becak dan delman amat dominan masa itu , persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam ber plat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman . Brigadir Royadin memandang dari kejauhan ,sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut Sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan pekalongan berhenti dihadapannya.
Bismillah… Ya Alloh…
Di awal bulan Sya’ban ini, kami mohon., berikan rahmat-Mu pada kami dan saudaraku ini. Limpahkan rizqi-Mu seluas langit dan bumi pada kami. Ajari kami kesadaran memberi sebelum diminta, berpikir sebelum bertindak, santun dalam berbicara, tenang ketika gundah, diam ketika emosi melanda, bersabar dalam setiap ujian.
Dan jadikanlah kami orang yang selembut Abu Bakar, sebijak Umar, sedermawan Usman, sepintar Ali, sesederhana Bilal, setegar Khalid, dan seperti matahari yang tak pernah bosan menyinari bumi.
Amin…
Hidup Berbasis Ramadhan (HBR) – Ramadhan Based Life adalah buku pertama dalam serial Real Life, yang selain mengawali visi renungan aktual tersebut juga menjalinkan mara rantai prosesi tumbuh – kembangnya kehidupan manusia dalam aturan Tuhan – Allah swt. (berikut akan menyusul Safar Insan Kamil dan Hidup Yang Kembali).
Saya bilang kepada mereka bahwa ada dua mahluk yang saya cintai di dunia ini; istri saya dan buku. Dan mereka telah mengotori dan merusak salah satunya.
Ditulis ulang dari sumber: Tafsir Kebahagiaan (Pesan Al Qur’an Menyikapi Kesulitan Hidup), Kang Jalaludin Rahmat (Paramadina), Serambi Ilmu Semesta
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dikisahkan: Suatu saat, Rasululloh dan Aisyah sedang bercengkerama di depan rumah mereka. Saat demikian, melintaslah seorang perempuan tua Rasululloh segera menyambut perempuan itu dan mengajaknya bertamu. Rasululloh lantas melepas sorban, mengelarnya, kemudian mempersilahkan orang tua itu duduk di atasnya. Setelah perempuan tua itu berlalu, Aisyah menanyakan perihal tamu yang diperlakukan begitu istimewa.